Cari

Membentuk dan mempertahankan Keluarga Sakinah

Minggu, 22 Maret 2009 14:21:20 - oleh : FATHURROHIM,S.Ag

Membentuk dan mempertahankan Keluarga Sakinah

Oleh Jiriban SH.

 

Setelah selesai berlangsungnya akad nikah dan mendapatkan bukti Buku Nikah dari pejat PPN, pasangan suami-isteri itu berharap bahwa perkawinan dan kehidupan keluarganya akan berlangsung normal, bahagia, menyenangkan dan akan mendapatkan apa yang di idam idamkan selama belum menikah, yaitu hidup bahagia sejahtera bersama pasangannya itu, tentunya dengan semangat baru , harapan baru, suasana baru, oleh karena itu banyak handai taulan, kerabat, atau teman dekat mengucapkan “Selamat Hidup Baru”, dengan iringan doa semoga menjadi Keluarga yang Sakinah , mawaddah, wa rohmah.

            Namun untuk membentuk Keluarga yang Sakinah tersebut , tidak semudah membalik tangan apalagi niat melagsungkan pernikahan tersebut tidak jelas, atau hanya bersifat keduniawian semata.

Berkeluarga kalau masih bulan bulan pertama , kedua, atau ketiga, keluarga  itu masih berbulan madu , merasakan betapa indahnya dan manisnya berkeluarga, meski baru sepasang suami isteri, memadu kasih, berbagi rasa, dan enjoy setiap saat, tapi kalau sudah mulai masuk tahun pertama, isteri sudah melahirkan anak pertama,suami kerja sampai lembur, capek, banyak sumbangan dadakan,  mulailah persoalan rumah tangga bermunculan silih berganti.

            Begitu banyaknya persoalan berkeluarga, sehingga  sampai berlarut larut yang ujung ujungnya bubar, dan  gagal membentuk keluarga yang Sakinah, malah  ada yang baru beberapa  hari, bulan atau tahun sudah berantakan dan meninggalkan kesan yang menyakitkan.

            Memang faktor kesuksesan membentuk keluarga yang Sakinah itu tergantung niat dan motivasi berkeluarga, jika niatnya baik maka wujud keluarga tersebut juga baik, jika niat berkeluarga itu jelek maka jelek pulalah wujud keluarga tersebut, namun sudah cukupkah berkeluarga itu dengan niat dan motifasi saja tanpa memahami fungsi fungsi keluarga itu sendiri?

1.Motivasi Berkeluarga

         a. Motivasi yang riil tapi semu.

Pasangan yang datang ke KUA, ketika melaporkan kehendak nikahnya kalau ditanya tentang motivasi berkeluarga tentu beragam jawabannya, malah kebanyakan cuma mesem atau tertawa kecil dan sulit mengungkapkan  isi hatinya, namun sebenarnya secara acak dapat diambil pokok pokok seperti : ingin mempunyai anak/keturunan, karena saling mencintai, ingin mendapatkan perasaan yang nyaman dan aman, ingin rumah dan uangnya, ingin mendapatkan kehidupan sex yang mantap dan mapan, dan masih banyak motiv2 yang lain , atau malah hanya ingin menyalurkan hasrat sexualnya, malah ada yang sekedar memenuhi janjinya yang terlanjur ditulis diatas kertas segel, karena ketangkep warga.

Itu semua sebenarnya yang terjadi saat ini, dan itu riil tapi semu, ia akan kecewa kalau keinginan keinginan membentuk keluarga tersebut ternyata tidak sesuai  dengan kenyataannya.

Pengennya memperoleh keturunan, tapi ternyata mandul, pengennya mendapatkan dan memadu cinta sejati, tapi malah dikhianati, pengennya mendapatkan perasaan aman dan nyaman, tapi ternyata pasangannya pemabuk, kejam suka memukul,atau ingin rumah dan uang pasangannya ,tapi tertipu, sebelum menikah ketika apel selalu naik mobil, setelah benar mau dinikahi pasangannya, dua bulan kemudian  nggak ada mobil lagi alias dulu ketika apel ternyata hanya pinjem temennya. Atau ingin mendapatkan kehidupan sex yang mantap dan mapan, tapi pasangannya frigid atau impoten, nah bisa dibayangkan sungguh kecewa pasangannya itu, ternyata yang selama ini ia dambakan mendapatkan kehidupan yang bahagia, tapi  ternyata meleset semua.

Kalau jaman dulu ada qoidah : Witing trisno jalaran kulino, itu terkait dengan  lembaga wali mujbir, awal awal bulan mungkin pasangan itu masih malu malu bertegur sapa, tapi lama lama setelah berinteraksi secara tidak sengaja suami sering melihat keindahan tubuh iterinya, atau sebaliknya isteri juga sering melihat kesan kokoh suaminya, atau perilaku yang menyenangkan, atau ciri khas isteri yang mempesona, akhirnya ya mau juga dan jatuh hati juga,  dan kalau mau ngapa  ngapain terhadap pasangannya itu kan slamet, karena sudah terikat perkawinan. Lhah kalau sekarang “ Witing Tresno mergo wis keno” , sama sama terpaksa, kalau dulu dipaksa bapaknya, sekarang terpaksa jadi bapaknya. begitulah kira2. lalu kira kira motivasi apa yang mereka miliki ketika harus berkeluarga  dari contoh dua bentuk keluarga tersebut ?

b. Motivasi yang bersifat abstrak dan kekal.

    Untuk membentuk keluarga yang sakinah, keluarga yang sukses , sehat sejahtera lahir dan bathin, perlu ada motivasi yang lebih specifik dan abstrak, hal ini berkaitan dengan nilai nilai keagungan keluarga tersebut, dan nilai2 tersebut harus senantiasa ditanamkan bagi keluarga ,agar dalam membentuk dan memelihara keluarganya yang sakinah menjadi kekal dan selamat sampai tujuan akhir keluarga tersebut. Berkeluarga itu ada nilai ibadahnya dan termasuk perilaku ibadah, tidak sekedar memenuhi hasrat biologis dan tuntutan materi, Jika berkeluarga itu hanya didasari atas pemenuhan kebutuhan biologis semata atau tuntutan materi saja tanpa ada motivasi yang lebih dalam dan bersifat spiritual filosofis, maka keluarga tersebut tidak akan menemukan kebahagiaan yang haqiqi, karena kebahagiaan yang haqiqi tersebut masuk dalm wilayah spriritual yang abstrak, kekal dan filosofis sifatnya.

     Dalam berkeluarga musti ada nilai nilai spiriritual yang bersifat filosofis, nilai itu adalah adanya keagungan Ilahi dan kasih sayang Allah yang selalu tercurah kepada hambanya yang mau melaksanakan perintah Tuhan dan Sunnah Rasul.

 وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ  وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ  وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

 

“Dan segala sesuatu Kami jadikan berpasang pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran/keagungan Allah ( Q.S. Adzariat 49 )

 

 قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

 

“ Katakanlah : “ Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanKU kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan “ ( Q.S. Assyuro 23 ).

 

 

 

“Nikah itu sunnahku, siapa yang emebenci sunahku, maka tidakllah termasuk golonganku”

 

Masih banyak lagi hujjah / dalil yang  menyatakan dan mempunyai arti  berkeluarga itu termasuk perilaku ibadah.

Disamping motivasi yang bersifat riil dan abstrak tersebut , agar keluarga itu mempunyai bentuk yang jelas, tangguh dan berkesinambungan maka sangat perlu pasangan suami isteri itu memahami dan berusaha memfugsikan keluarga tersebut dengan sebaik baiknya , karena jika terjadi Disfungsi Keluarga maka keluarga tersebut tidak akan melahirkan generasi yang  tangguh berkwalitas dan hanya akan meninggalkan generasi generasi  yang lemah dan bahkan tidak mempunyai jati diri yang jelas, yang pada gilirannya akan melahirkan masyarakat yang lemah pula dan tidak jelas pula jatidiri masyarakat itu.

 

2. Funsi Keluarga

Keluarga adalah tempat tumbuh dan berkembangnya generasi penerus, dan itu sudah sunnatullah, keluarga merupakan tempat memperoleh perasaan aman dan nyaman, dan tempat bercanda ria diantara anggota keluarga, tempat untuk mempeoleh norma norma yang bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya, berfungsi pula sebagai tempat untuk memperoleh pendidikan dalam arti seluas luasnya , Keluaraga sebagai tempat mendaapatkan contoh dan teladan bagi putra putrinya , tempat untuk melatih sikap dan tingkah laku yang terpuji, tempat untuk membina karakter yang kokoh, madiri, berkepribadian kuat dan jauh dari nilai2 dan perilaku kekerasan, tempat untuk membina budi pekerti yang luhur, dan masih banyak lagi fungsi keluarga yang tidak dapat saya tulis karena memang ya cuma itu yang penulis ketahui.

 

Semua fungsi keluarga tersebut pada prinsipnya dapat dikelompokkan menjadi fungsi pembinaan yang bersifat  fisik, psychis, spiritual., dan apabila berfungsi dengan baik maka baik pulalah pencapaian keluarga itu , hal itu menjadi faktor pendukung terciptanya keluaraga yang sakinah, keluarga yang sehat sejahtera lahir dan bathin dunia akherat.

 

Agar fungsi keluarga berjalan dengan baik dan normal tentunya pasangan suami – isteri tersebut berupaya hidup sehat, punya penghasilan yang tetap dan cukup, selalu menciptakan dan memelihara rasa kebersamaan dalam keluaraga, ada rasa memiliki dan diamanati Tuhan, mencintai dengan sepenuh hati terhadap pasangannya, mempunyai wawasan pengetahuan yang cukup sehingga mempu mendidik putra putrinya, dan yang penting adalah contoh dan keteladanan yang baik serta dapat membuat kebiasaan2 yang baik pula dalam keluarga tersebut.

Jadi dengan motivasi yang benar dan memahami serta mengamalkan fugsi fungsi keluarga tersebut insya Allah akan mendapatkan bentuk keluarga yang sehat, sejahtera lahir bathin, keluarga yang sakinah mawaddah, wa rohmah dan mampu mempertahankannya sampai akahir hayatnya dalam keridloanNYA.

 

Demikian tulisan ini semoga bermanfaat dan sekiranya berkesan klise dan normatif mohon maaf , dan sudilah kiranya pembaca memperbaikinya.

 

                                                                                    Bantul, 11 Maret 2009

 

Kirim ke Teman Versi Cetak

Berita "Tausyiah" Lainnya

Polling Pengunjung

Layanan KUA Kasihan Bantul:

 

Pesan Singkat

Kalender

« Sep 2010 »
M S S R K J S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9

Statistik Situs

Visitors: 5306 Org
Hits: 21206 hits
Month: 293 Users
Today: 13 Users
Online: 1 Users
Stat. Web: Klik

Tags

Login

Username :
Password :

Powered by SafariCMS © 2009
Copyright © 2009 KUA Kasihan Bantul