Cari

Arah Kiblat

Minggu, 29 Maret 2009 21:27:58 - oleh : FATHURROHIM,S.Ag

ARAH KIBLAT DALAM PERSPEKTIF FIQH[1]

Abdul Mughits[2]

 

 

 

 

A.     PENGERTIAN DAN SEJARAH SINGKAT

Kiblat (Qiblah) diambil dari kata muqabalah yang berarti muwajahah, artinya mengahadapi. Sehingga kata qiblah sendiri artinya hadapan, yaitu suatu keadaan (tempat) dimana orang-orang pada menghadap kepadanya. Dalam Syari’at Islam, istilah qiblah ini kemudian digunakan secara khusus untuk arah yang dihadapi orang-orang Islam ketika menjalankan shalat.

Dalam sejarah agama samawi, ada dua tempat suci yang pernah ditetapkan sebagai kiblat dalam shalat, yaitu Baitul Maqdis (Bait al-Muqaddas) di Palestina dan Baitullah atau Ka’bah di Masjidil Haram Mekah. Sampai sekarang, Baitul Maqdis masih menjadi kiblatnya kaum Yahudi. Nabi Muhammad saw. sendiri pernah menghadap Kiblat Baitul Maqdis ini ketika Beliau masih di Mekah dan di Madinah sampai 16 bulan (atau 17 bulan). Setelah itu, kemudian turun wahyu mengenai Kiblat ke Ka’bah Masjidil Haram, dan Kiblat inilah yang diinginkan oleh Nabi saw.

Menurut riwayat, ketika Nabi saw. masih menghadap ke Kiblat Baitul Maqdis, sering kali mendapat olokan dari orang-orang Yahudi. Kata mereka: “Muhammad telah menyimpang dari agama kita, tetapi dia masih mengikuti Kiblat kita. Kalau saja tidak ada agama kita, entah tidak tahu mau kemana dia akan menghadap dalam shalatnya.” Olokan (ejekan) ini kemudian membuat Nabi saw. tidak suka menghadap   kiblatnya kaum Yahudi tersebut. Sampai Beliau pernah berkata kepada Jibril a.s. “Saya ingin sekali kalau saja Allah memalingkan (membelokkan) saya dari kiblatnya orang-orang Yahudi ke tempat lain.” Tempat lain yang dimaksud adalah Baitullah.

Kemudian, Nabi saw. selalu menengadah ke langit dalam setiap menjalankan shalat sebagai permohonan kepada Allah agar kiblatnya diganti ke Ka’bah, dan permohonan itu akhirnya dikabulkan oleh Allah dengan turunnya wahyu Surat Al-Baqarah [2]: 142-5.

Menurut riwayat, ayat tersebut turun ketika Nabi saw. menjalankan shalat jamaah di Masjid Banu Salamah di Madinah. Setelah rakaat pertama, tiba-tiba Nabi mendapatkan wahyu agar membelokkan kiblatnya ke arah Baitullah di Mekah. Para jamaah mengikuti tindakan Nabi tersebut. Sejak peristiwa ini, Masjid Banu Salamah dikenal sebagai Masjid Qiblatain (Masjid dua Kiblat).

Hikmah (tujuan) perubahan kiblat ini adalah untuk mengetahui siapa yang loyal mengikuti Nabi saw. dan siapa yang tidak, untuk membedakan mana yang fasiq dan mana yang tidak, sekaligus sebagai ujian keimanan umat Islam pada saat itu. Disamping itu, untuk memperkuat mental umat Islam saat itu yang mendapat cercaan orang-orang Yahudi. 

 

B. HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN ARAH KIBLAT

            Meski ibadah utama dalam masalah kiblat ini adalah shalat, tetapi kiblat ini sebenarnya juga berkaitan dengan hal-hal lain. Hal-hal yang berkaitan dengan arah kiblat itu adalah:

1. Sholat, dimanapun berada, disyaratkan menghadap kiblat bagi yang mengetahui arahnya dan memungkinkan untuk menghadapnya. Para ulama sepakat bahwa menghadap kiblat (istiqbal al-qiblah) menjadi syarat sahnya shalat, kecuali dalam shalat khauf, shalat di atas kendaraan (hewan atau mesin), dan shalat bagi orang yang tidak mengetahui arah kiblat.

2. Pembangunan masjid, mushola, surau, dan mushola dalam rumah, agar arah bangunannya lurus menghadap kiblat, sehingga arah kiblat dalam sholat dapat langsung mengikuti arah sumbu bangunan. Jika arah bangunan tidak sesuai dengan arak kiblat, maka shaff-nya yang harus disesuaikan.

3. Pembuatan liang lahat, agar si mayit dapat menghadap kiblat secara sempurna. Oleh karena perlunya tanda arah kiblat dalam setiap maqam (kuburan) sebagai acuan dalam pembuatan liang lahat.

4. Pembuatan kamar kecil (WC, toilet), karena ajaran Islam melarang buang air (kecil dan besar)  dengan menghadap atau membelakangi kiblat.

5. Pembangunan rumah, agar arah bangunan dapat mengarah ke kiblat, sehingga seluruh ruangannya sudah ke arah kiblat.

6. Penandaan arah kiblat pada kamar-kamar hotel, apartemen, rumah pribadi, losmen dll.

7. Mengatur tempat tidur, sehingga posisi orang tidur dapat menghadap kiblat, sebagaimana Sunnah Nabi saw., terutama bagi orang sakit yang sudah tidak bisa berdiri, sehingga setiap saat shalat posisinya sudah menghadap kiblat, atau orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.

 

C. DALIL-DALIL AL-QUR’AN

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (142) وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (143) قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (144) وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آَيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (145)

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (148) وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (149) وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (150)

 

Sebab Turun Ayat:

1.      Diriwayatkan dari Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari al-Barra’ bin ‘Azib: … bahwasanya Nabi shalat mengahadap Baitul Maqdis itu selama 16 bulan (ketika sudah di Madinah). Nabi ingin sekali kalau kiblatnya dirubah ke Baitullah; dan shalat Beliau pertama kali yang menghadap Baitullah adalah shalat Asar bersama sekelompok orang (jam’ah). (Setelah selesai shalat) kemudian keluar salah seoarang jamaah Nabi, berlari menuju ke suatu masjid (lain) yang jama’ahnya sedang ruku’ dalam shalat. Lalu (saat itu juga) orang tadi mengatakan “Saya bersaksi demi Allah, sungguh saya tadi telah shalat bersama Nabi saw. dengan menghadap ke Mekah.” Kemudian jamaah shalat masjid itu memutar ke arah Baitullah (Mekah).  Adapun orang-orang yang telah meninggal yang dulu shalat menghadap kiblat sebelum dirubah ke arah Baitullah, kami tidak mengetahui harus katakan apa tentang mereka? Kemudian turun ayat: “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu,” yakni shalatmu. (Al-Baqarah: 143)

2.      Dari al-Barra’, bahwa Rasul saw. dulu shalat ke arah Baitul Maqdis  dengan banyak (sering) menengadah ke langit, menunggu perintah Allah, maka Allah menurunkan wahyu: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kami ke kiblat yang kamu sukai…” (Al-Baqarah: 144). Dan orang-orang pada bertanya: “Kami ingin sekali tahu bagaimana (hukum) orang-orang yang telah meninggal sebelum kiblatnya dipindah, dan bagaimana (hukumnya) shalat kita yang menghadap ke Baitul Maqdis?” Maka Allah menurunkan wahyu: “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu,” yakni shalatmu. (Al-Baqarah: 143).

 

C.     DALIL-DALIL SUNNAH

Diantara dalil-dalil Sunnah adalah:

1.      إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يصلي نحو البيت المقدس فنزلت " قد نرى تقلب وجهك في السماء فلنولينك قبلة ترضاها فول وجهك شطر المسجد الحرام" فمر رجل من بني سلمة و هم ركوع في صلاة الفجر وقد صلوا ركعة فنادى ألا أن القبلة قد حولت فمالوا كما هم نحو القبلة (رواه مسلم عن أنس بن مالك)

2.      إذا قمت إلى الصلاة فأسبغ الوضوء ثم استقبل القبلة فكبر (رواه البخاري و مسلم عن أبي هريرة)

3.      إن النبي صلى الله عليه و سلم لما دخل البيت دعا في نواحه ولم يصل فيه حتى خرج ركع ركعتين في قبل القبلة و قال هذه القبلة (رواه مسلم عن أسامة بن زيد)

4.      ما بين المشرق و المغرب قبلة (رواه الترمذي وابن ماجه عن أبي هريرة)

5.      البيت قبلة لأهل المسجد و المسجد قبلة لأهل الحرم و الحرم قبلة لأهل الأرض في مشارقها و مغاربها من أمتي (رواه البيهقي عن أبي هريرة)

6.      كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم في سفر في ليلة مظلمة فلم ندري أين القبلة فصلى كل رجل منا على حياله فلما أصبحنا ذكرنا ذلك للنبي صلى الله عليه وسلم فنزل "فأينما تولوا فثم وجه الله (رواه الترمذي)

 

 

 

D.    PENDAPAT PARA ULAMA

Para ulama sepakat bahwa mengahadap kiblat itu menjadi syarat sahnya shalat, kecuali shalat khauf (dalam keadaan takut, siaga, perang), shalat di atas kendaraan, orang yang tidak mengetahui arah kiblat, orang yang terikat (marbuth), dan orang sakit yang tidak bisa menggeser tubuhnya ke arah kiblat, mungkin karena tidak ada orang yang membantunya. Dalam keadaan seperti itu maka diperbolehkan menghadap ke arah mana saja yang bisa dan atau diyakini sebagai arah kiblat. Artinya, menghadap kiblat itu harus dilakukan dalam keadaan mampu dan aman dari serangan musuh atau hewan buas, sebagaimana penegasan ulama Malikiyyah dan Hanafiyyah.

Mereka juga bersepakat bahwa bagi orang yang dapat melihat ke ‘Ainul Ka’bah secara langsung, maka harus mengahadap ke ‘Ainul Ka’bah. Jika tidak dapat melihat ‘Ainul Ka’bah secara langsung, seperti karena jarak yang jauh dari Ka’bah, maka disinilah kemudian menimbulkan ikhtilaf di kalangan ulama: Apakah yang wajib itu menghadap ke ‘Ainul Ka’bah atau Jihatul Ka’bah. Berikut ini akan diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan arah kiblat.

 

1. Maksud Lafal “al-Masjid al-Haram”

Lafal “al-Masjid al-Haram” dalam surat Al-Baqarah: 144 dan 150 mengandung banyak arti: Ka’bah; Masjidil Haram; Makkah al-Mukarramah; dan semua Tanah Haram (Mekah dan sekitarnya). Tetapi yang dimaksud lafal tersebut adalah Ka’bah, sebagaimana pendapat para Fuqaha’.

 

2.  ‘Ainul Ka’bah Atau Jihatul Ka’bah?

Jumhur ulama berpendapat, bagi orang yang mengerjakan shalat di sekitar Masjidil Haram yang dapat melihat Ka’bah secara langsung, maka diwajibkan menghadap ke ‘Ainul Ka’bah. Tetapi ketika orang itu berada di tempat yang jauh dari Masjidil Haram atau jauh dari kota Mekah, maka para ulama berbeda pendapat.

a.       Menurut ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah bahwa yang wajib adalah menghadap ke ‘Ainul Ka’bah. Artinya, bagi orang yang dapat menyaksikan Ka’bah secara langsung maka harus menghadap Ka’bah. Jika tidak menyaksikan secara langsung, seperti karena faktor jarak yang jauh dari Ka’bah atau dari kota Mekah, maka harus menyengaja mengenai  Ka’bah dengan cara menghadap ke arahnya.

Alasan pendapat ini adalah:

-         Firman Allah فول وجهك شطر المسجد الحرام. Maksud kata syatral Masjidil Haram adalah arah dimana orang yang shalat itu menghadapnya dengan memposisikan tubuhnya ke arahnya, yakni kea rah Ka’bah. Dan firman Allah وحيثما كنتم فولوا وجوهكم شطره, “dimanapun kamu berada maka hadapkanlah wajahmu ke arah Kiblat”.

-         Hadis riwayat Imam Muslim dari Usamah bi Zaid di atas (Hadis nomor 3). Dalam hadis itu Nabi saw. bersabda  هذه القبلة “inilah Kiblat”. Pernyataan itu menujukkan batasan (ketertentuan) kiblat. Oleh karena itu yang namanya kiblat adalah ‘Ainul Ka’bah itu sendiri, sebagaimana ditunjukkan Nabi saw. secara langsung.

-         Dalil Qiyas: Bahwa kesungguhan Nabi saw. dalam memuliakan Ka’bah adalah riwayat yang mutawatir. Sementara itu, shalat adalah syi’ar agama yang paling utama. Kemudian, syarat sahnya shalat dengan menghadap ke ‘Ainul Ka’bah tentu akan menambah kemuliaannya tersebut. Oleh karena itu, menghadap ke ‘Ainul Ka’bah dalam shalat pasti/harus disyari’atkan.

-         Mereka juga berargumentasi: Bahwa Ka’bah sebagai kiblat itu adalah suatu perkara agama yang pasti (tegas) kebenarannya, sebaliknya, hal selain Ka’bah sebagai kiblat itu perkara agama yang diragukan (masykuk), sementara memelihara kehati-hatian (ihtiyath) dalam shalat itu suatu keharusan. Oleh karena itu menghadap ke ‘Ainul Ka’bah sebagai syarat sahnya shalat tentu juga menjadi kewajiban.

b.      Menurut ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah, bahwa yang wajib itu (cukup) Jihatul Ka’bah. Artinya, bagi orang yang dapat menyaksikan Ka’bah secara langsung maka  harus menghadap dengan mengenai ke ‘Ainul Ka’bah, jika jauh dari Ka’bah maka cukup dengan menghadap ke arahnya (Jihatul Ka’bah). Alasannya adalah dalil Al-Qur’an, Sunnah, perbuatan shahabat (‘amal as-sahabah), dan akal (raionalitas):

-  Al-Qur’an: Bahwa secara zahir[3] Allah swt. hanya berfirman فول وجهك شطر المسجد الحرام bukan شطر الكعبة . Oleh karena itu jika ada orang yang mengerjakan shalat dengan menghadap ke sisi bangunan Masjidil Haram, maka dia telah memenuhi perintah dalam ayat tersebut, baik menghadapnya itu dapat mengenai ke ‘Ainul Ka’bah atau tidak.

-     Sunnah: Hadis nomor 4 di atas, yaitu ما بين المشرق و المغرب قبلة, dan Hadis nomor 5: البيت قبلة لأهل المسجد و المسجد قبلة لأهل الحرم و الحرم قبلة لأهل الأرض في مشارقها و مغاربها من أمتي

-      ‘Amal Shahabat: Bahwasanya (suatu saat) jamaah masjid Quba’ itu mengerjakan shalat Subuh di Madinah dengan menghadap ke Baitul Maqdis dan membelakangi Ka’bah. Kemudian dikatakan kepada mereka “Sungguh kiblatnya sudah dirubah ke Ka’bah, maka para jama’ah shalat itu langsung memutar arahnya dengan tanpa meminta dalil. Kemudian setelah masalah itu disampaikan kepada Nabi saw., Beliau tidak mengingkari kebenarannya. Oleh karena itu masjid mereka disebut Masjid dzil Qiblatain.

-      Dalil akal (rasionalitas): Mereka berargumentasi bahwa untuk mengetahui ‘Ainul Ka’bah itu tidak akan bisa kecuali dengan didukung ilmu pengetahuan dan teknologi (adillah handasah) yang membutuhkan waktu lama untuk melakukan risetnya itu. Menurutnya lagi, bagaimana mungkin orang akan mengetahui ‘Ainul Ka’bah dengan begitu saja tanpa berpikir panjang (badihah) di tengah-tengah menjalankan shalat, demikian juga, bagaimana mungkin menemukan ‘Ainul Ka’bah dalam kegelapan malam. Kirim ke Teman Versi Cetak

Berita "Tausyiah" Lainnya

Polling Pengunjung

Layanan KUA Kasihan Bantul:

 

Pesan Singkat

Kalender

« Sep 2010 »
M S S R K J S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9

Statistik Situs

Visitors: 5258 Org
Hits: 21053 hits
Month: 308 Users
Today: 12 Users
Online: 4 Users
Stat. Web: Klik

Tags

Login

Username :
Password :

Powered by SafariCMS © 2009
Copyright © 2009 KUA Kasihan Bantul